Skip to main content

CORONA, Mbah Karto dan Kopi Pahit

Oleh: Cak DakelanPada: Maret 28, 2020


Setelah hampir dua minggu melakukan kerja dari rumah, pagi itu tiba-tiba aku kangen dengan rasa kopi kental pahit diwarung langananku. Setelah selesai sarapan, mandikan anak-anak langsung meluncur ke warung dekat kantor. Sepanjang perjalanan memang jalanan nampak sepi tidak seperti biasanya, beberapa toko terlihat tutup, namun dibeberapa tempat masih terlihat orang duduk disebuah warung dengan segelas kopi di depannya.

Nampaknya daya Tarik kopi mengalahkan imbauan pemerintah untuk berdiam diri dirumah, bagi pecinta kopi Corona bukanlah hal yang menakutkan. Meskipun pemerintah dan aparatnya tidak lelah untuk menyampaikan tentang bahaya Virus corona ini, nampaknya bagi pecinta kopi hal itu tidak berlaku, sebagian mereka beranggapan bahwa dengan minum kopi justru akan meningkatkan daya tahan tubuh. Meskipun belum ada bukti secara medis, atau memang alasan mereka saja supaya tetap bisa menikmati kopi.

Bagi pecinta kopi akan ada beribu alasan bagi mereka untuk tetap minum kopi diwarung, bahkan mereka rela untuk membohongi istri hehe. Setelah kurang lebih 15 menit diatas motor, akhirnya sampai juga diwarung kopi yang terletak dipojok kampong. Segera ku parkir motorku, dan masuk ke warung untuk memesan secangkir kopi kental pahit. Dan memang warung ini tidak seramai biasanya, hanya ada satu orang yang sudah duduk dipojok meja menikmati kopi dan sebatang rokok. Lelaki itu tak lain adalah mbah Karto, salah satu pelanggan setia warkop ini.

“Sudah dari tadi mbah” Sapaku pada lelaki yang nampak seperti dukun tersebut. “Iya mas, bosan dirumah terus” Jawabnya sambil menghisap kreteknya. “ Mbah Karto dunia lagi dilanda virus Corona, bagaimana penerawangan njenegan”tanyaku mengawali pembicaraan. “ini namanya pagebluk mas, suatu bencana yang dikirimkan oleh sang Pencipta untuk manusia, supaya kita terlatih dan menjadi kuat menghadapi segala bencana” jawab mbah Karto.

Pagebluk ini tidak akan lama kok, akan segera berakhir, jadi tidak perlu terlalu khawatir tapi juga jangan mengentengkan” lanjutnya memberikan petuahnya. “ini sebuah takdir yang harus dihadapi dan dijalani mas, kita harus dapat memetik pelajaran dari semua ini” Mbah Karto nampak serius. “manusia itu jangan sombong, menganggap dapat melakukan semuanya terus merasa bisa melebihi yang Maha Kuasa. Manusia didunia ini hanya sepotong kuku hitam diantara ciptaan Tuhan, jadinya jangan selalu murko, eling lan waspodo, tansah tali asih” wejangan ini semakin dalam dari Mbah Karto.

“Iya mbah” jawabku singkat. Setuju dengan pendapat mbak Karto yang penuh refleksi dan dalam itu. “Terus apa yang harus kita lakukan sekarang ini mbah untuk menghadapi merebaknya Virus Corona ini?” tanyaku mencoba meminta pendapat beliau. “Negoro iki wes ono seng ngatur (baca : Negara ini sudah ada yang mengatur), ikuti anjuran pemerintah.

Makna tali asih, eling lan waspodo itu, kita wujudkan dengan menjaga diri untuk tidak ikut menyebarkan virus Corona” jelas Mbah Karto dengan mantap. Lebih jauh Mbah Karto, menyampaikan kalau pemerintah sudah menghimbau untuk tidak keluar rumah, ya sebisa mungkin kita taati. Toh semua itu demi kebaikan kita semua, saudara kita, keluarga kita dan tetangga kita” katanya sambil menghisap kreteknya yang tinggal seperempat batang.

“Betul Mbah, tapi pemerintah juga harus menyediakan apa yang butuhkan oleh warganya ketika harus tinggal dirumah” tambahku. “Iya, pemerintah itu harus bisa ngemong rakyatnya, kalau rakyatnya sudah nurut maka pemerintah juga harus menunaikan kewajibannya. Penuhi kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang rakyat miskin” sambung Mbah Karto memberi pencerahan.

Tak terasa kopi kental pahit sudah dipenghujung dasar cangkir, dan sudah dua batang rokok habis. Mengingat anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah, maka bergegas aku pamit pada Mbah Karto untuk pulang. Sepanjang perjalanan aku terus terngiang apa yang disampaikan oleh Mbah Karto.

Untuk menghentikan penyebaran Virus Corona ini butuh kesadaran semua pihak, baik pemerintah dan masyarakat juga. Pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat dari wabah virus corona ini, begitu juga masyarakat juga memiliki tanggungjawab untuk menghentikan penyebaran virus ini dengan cara selalu menerapkan jaga jarak, tinggal dirumah.
Disisi lain pemerintah dengan sumberdaya yang dimiliki wajib menyediakan kebutuhan masyarakat dalam penanganan virus corona ini. Karena kesehatan dan keselamatan rakyat Indonesia di jamin dalam konstitusi yaitu UUD 1945. Intinya antara negara (pemerintah) dan masyarakat untuk bergotong royong memerangi virus corona ini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar