--> Skip to main content

Pilkada Warung Kopi

Oleh: Cak DakelanPada: Februari 13, 2020

Seperti biasa sebelum membuka laptop, saya selalu mengawali ritual secagkir kopi di warung kopi, bukan cafe ya. Setelah 5 menit menunggu datanglah secangkir kopi hitam tanpa gula, segera kubuka tutup cangkir dan menuang kopi di lepek.

Disela-sela menikmati kopi, tiba-tiba duduk seorang bapak yang juga pelanggan warung kopi, "Pagi mas, kok sendirian saja", sapanya. seblum ku jawab sapanya, dia sudah membuka obrolan. " sekarang ini banyak baleho ya mas gambarnya orang2 yang mau nyalon bupati". ada yang muka lama, ada yang baru dan saya blm pernah dengar, celoteh bapaknya.

"menurut sampean, kira-kira apa motivasi mereka mau jadi bupati mas?" tiba-tiba dia bertanya, dan jujur aku ngak tahu harus jawab apa?.

"Kalau motivasi kan bisa dilihat dari tulisan dibaleho itu toh pak, itu janji mereka" jawabku sekenanya supya bapknya tidak kecewa.

"kita ini rakyat kecil mas, sudah bosan dengan janji-janji tiap lima tahunan itu, toh setelah terpilih paling yang didahulukan ya kelompoknya, tim suksesnya, ucap pak pri lebih jauh bak politisi senior heheh. Sementara aku hanya menikmati dongeng pria 60 tahunan tersebut.

Yang membuat aku terkejut dalam obrolan warung kopi ini adalah, ketika pak pri bilang, "Pilkada itu seperti ritual musiman mas, setiap lima tahun ganti Kepala Daerah tidak banyak perubahan kok. Jadi ya anggap saja itu musim panen kita, kan lumayan dapat 100 ribu, kalau ada 3 calon nanti berarti dapat 300 ribu.

"Nah itu kan namanya money politik pak" selaku untuk sedikit memberikan pencerahan. "Kalau money politik kan harusnya banyak yang ditangkap mas, nyatanya setiap tim sukses pasti ngasih uang kok dan itu aman-aman saja mas" sergahnya mencoba memberikan alasan.

"Ngak boleh pak itu namanya pelanggaran hukum, nanti baik yang menerima dan memberi bisa kena hukuman pak" Jelasku mengutip pengamat hukum dan pengamat politik. Sebaiknya kita mulai memberikan pemahaman pak, bahwa menerima uang dari calon itu sama saja dengan menyuruh calon terpilih nanti korupsi karena harus mengembalikan modalnya, kalau sudah begitu kita juga yang rugi". Jelasku lebih lanjut.

Tak terasa kopi hitam di cangkir tinggal menyisakan leteknya pertanda harus segera kembali ke laptop, sebelum pergi meninggalkan warung, saya membisiki pak pri, "Pak jangan terima uangnya dan laporkan yang memberi" bisiku, dan Pak pri mengangguk ngak tahu apakah setuju atau binggung. Tak lupa aku bayar kopiku dan juga kopi Pak pri.

Pak Pri adalah salah satu potret pemilih yang begitu tidak memiliki ketertarikan terhadap pemilihan kepala daerah (Pilkada), karena bagi Pak Pri dan Pak Pri-Pak Pri yang lainnya siapa pun yang terpilih tidak memiliki dampak kepada mereka.

Itulah sedikit kenyataan dan masalah dalam Pilkada, tugas partai politik, calon, dan penyelenggara untuk terus menyemai harapan terhadap Pilkada, harapan adanya Pilkada ini dapat mendorong perbaikan hajat hidup masyarakat pemegang mandat suara. Bersambung



Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar