Skip to main content

Kritik Warung Kopi

Oleh: Cak DakelanPada: Februari 25, 2020

Secangkir kopi panas menjadi teman yang pas saat hujan sore hari begini, apalagi dibarengi dengan obrolan yang lagi hangat. Sore itu, ditemani pak Saimo saya menikmati kopi dipinggir jalan didepan sebuah stasiun karena menunggu keberangkatan kereta api menuju Jakarta. “Sudah dengar mas, kalau diTuban lagi rame tentang pelaporan netizen yang dianggap menghina Bupati” Tanya pak Saimo mengawali pembicaraan.

“Sudah sih pak, tapi ngak terlalu mengikuti jalan ceritanya. Memangnya bagaimana kronologisnya kok sampai ada pelaporan” Aku balik bertanya. Sambil menghisap rokok kretek kesukaanya, Pak Saimo mulai mengalirkan sebuah cerita. “Awalnya digroup medsos itu ada yang memposting tentang kondisi jalan yang rusak, nah postingan itu kemudian banyak yang mengomentari, namanya juga netizen mas, jadi komentarnya macam-macam” jelasnya.

“Masalahnya ada satu komentar dari Netizen yang menggunakan kata-kata Bi*****ng dalam komentarnya, dan komentar itulah yang kemudian oleh beberapa orang dianggap menghina Bupati Tuban sehingga mereka membuat laporan kepada Polisi” demikian Pak Saimo menjelaskan kronologisnya. “Menurut sampean, bagaimana melihat kasus itu mas” Tanya pak Saimo sambil menuang kopi ke lepeknya.

“Begini pak Saimo, kalau menurut saya menyampaikan kritik itu boleh saja dan mengkritik bisa lewat apa saja karena itu dilindungi oleh undang-undang juga yakni kebebasan menyatakan pendapat, salah satunya menyampaikan kritik” aku mulai memberikan penjelasan seperti dosen lagi memberikan kuliah kepada mahasiswanya, sementara Pak Saimo menyimak sambil mangut-mangut dan menghisap kreteknya yang tinggal seperempat batang.

“Kebebasan menyampaikan pendapat atau kritik itu haruslah dengan bijak pak, apalagi dengan menggunakan media social” lanjutku dengan penuh semangat. “Ketika kita menggunakan medsos, maka kita harus bisa membedakan mana kritik dan mana menghina, merendahkan martabat orang lain, dan juga kritik harus berdasarkan informasi yang akurat jangan sampai kita termakan hoax”. Jelasku mencoba untuk menerangkan lebih detail.

“Kalau kasus yang lagi viral itu bagaimana menurut sampean mas”? sela pak Saimo. “Menurut saya itu kurang bijak dalam melakukan kritik pak, masalahnya itu kan sebenarnya keluhan tentang jalan yang rusak dan itu sah-sah saja warga mengeluhkannya.

Akan tetapi, nah ini yang penting pak, kalau kita punya keluhan terkait kebijakan atau pelayanan pemerintah mestinya kita menggunakan saluran yang sesuai dengan prosedur, kan sekarang banyak itu mekanisme aduan, seperti SP4N LAPOR, ada juga Ombudman” jelasku kepada pak Saimo.
“Itu apa lagi mas”? Tanya beliau penasaran.

“SP4N LAPOR itu semacam media pengaduan yang disediakan oleh pemerintah pak, jadi masyarakat bisa menyampaikan pengaduan, keluhan termasuk jalan rusak itu pak. Pengaduan atau keluhan yang masuk nanti akan diproses dan ditindaklanjuti” jawabku memberikan sosialisasi hehe.

“Terus kalau menyampaikan pengaduan dan keluhan ke medsos itu salah mas”, timpal pak Saimo. “Tidak salah juga pak, karena itu hak setiap warga negara, tetapi yang perlu diingat harus dengan Bahasa yang sesuai, jangan menyerang individu apalagi mengatakan seperti binatang. Perlu diingat kebebasan di media social itu diatur dalam undang-undang ITE, kalau ada pihak yang merasa keberatan bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Tidak terasa sudah hampir satu setengah jam, kita ngobrol dan kopi juga sudah tinggal leteknya pertanda harus segera diakhiri. Sebentar lagi kereta sudah akan datang. “Intinya pak, kita harus bijak menggunakan medsos, sampaikan kritik yang sesuai jangan menghina, menyerang kehormatan orang.

Dan yang lebih penting gunakan saluran dan media resmi untuk menyampaikan keluhan, kritik dan pengaduan. Karena itu juga akan membantu pemerintah untuk memperbaiki kebijakan dan pelayanannya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar