Skip to main content

Pilkada : Bukan Sekedar Ganti Kepala Daerah

Oleh: Cak DakelanPada: Desember 01, 2019

Media social mulai disesaki dengan kabar ramainnya pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), berita tentang penjaringan bakal calon yang dilakukan oleh partai politik, maupun gambar-gambar orang yang memasarkan diri untuk mengukur seberapa jauh dikenal oleh masyarakat seolah menjadi ritual setiap menjeleng pelaksanaan pemilukada. “banyak orang narsis sekarang” celetuk seorang teman.

Pemilukada menjadi ruang bebas, terkadang susah untuk membedakan orang yang benar-benar ingin mengabdi memajukan daerah dengan orang yang beradu keberuntungan setiap musim Pilkada. Di Tuban dari kabar media social sudah banyak bermunculan figure-figur yang menyatakan akan ikur bertarung dalam pemilihan Bupati dan wakil Bupati. Ada wajah baru ada juga wajah lama yang selalu muncul setiap pilkada.

Sebentar lagi pesta demokrasi akan digelar di Tuban tepatnya di akhir tahun 2020 nanti, perhelatan lima tahunan ini akan menentukan siapa yang akan menjadi Bupati dan Wakil Bupati untuk lima tahun yang akan datang. Akankah Pilkada ini membawa perubahan kehidupan masyarakat Tuban menjadi lebih baik, atau sekedar ritual lima tahunan untuk memilih Kepala Daerah.

Tentu ini menjadi hal penting yang harusnya menjadi diskursus serius, sebab jika hal ini tidak terjawab maka masyarakat kita akan semakin apatis atau cuek dengan pilkada ini.

Jika masyarakat sudah apatis, maka ini akan dimanfaatkan oleh kelompok atau oknum yang mencari keuntungan dari setiap momentum Pilkada dengan memanfaatkan sikap cuek masyarakat Tuban. Dengan potensi dan kekayaan alam yang dimiliki oleh daerah ini maka semua orang pasti akan tertarik untuk berkuasa, karena Tuban adalah daerah dengan SDA yang cukup besar.

Jika masyarakat tidak peduli, maka mereka yang datang memanfaatkan Pilkada inilah yang akan menguasai sumberdaya ini, sementara rakyat hanya kembali menjadi penonton atau pendorong mobil yang mogok.

Memilih pemimpin bukan hanya didasarkan pada patronase individu atau kelompok dan golongan, tetapi memilih pemimpin itu harus dilihat dari seberapa jauh mereka memiliki kapasitas, kapabilitas dan yang penting adalah komitmen untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat.

Calon Kepala daerah harus memiliki komitmen, bagaimana mengelola potensi dan sumberdaya di Tuban untuk ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat Tuban, bukan untuk menyejahterakan kelompok dan golongan mereka saja.

Publik Tuban berhak untuk mendapatkan narasi-narasi yang berisi gagasan dan komitmen yang lengkap tentang komitmen untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat Tuban. Bukan hanya sekedar slogan dan tagline yang dipasang di media social.

Bagi mereka yang berniat untuk mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati harus mau berdialog, diskusi dan bicara dengan masyarakat Tuban. Satu hal lagi, partai politik juga harus mendengarkan aspirasi masyarakat Tuban sebagai pemegang mandat.

Partai Politik sudah saatnya menempatkan diri sebagai fasilitator antara calon kepala daerah dengan masyarakat. Sudah bukan saatnya lagi parpol hanya sebagai pencetak surat rekomendasi sebagai syarat pendaftaran ke KPU.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar