Skip to main content

follow us

Berebut Kardus dan Kuasa

Kardus berasal dari karton yang dipergunakan untuk mengemas barang, dan kardus bekas juga banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan lainnya. Bahkan kardus tidak hanya sebagai pembungkus barang, siapa sangka dengan kardus sudah tercipta alat canggih berbasis tehnologi yang dipergunakan untuk promosi pariwisata. Alat itu bernama google cardboard, yang merupakan alat sederhana yang digunakan sebagai media untuk promosi di Australia.

Itulah salah satu contoh bagaimana memanfaatkan kardus, yang selama ini kita saksikan dilingkungan kita hanya sebagai tumpukan sampah atau kalau tidak dipergunakan kembali untuk mengemas barang ketika kita berpergian jauh yang mengemas barang bawaan berupa pakaian dan makanan dalam kardus. Bagi masyarakat desa atau kampung memang masih memanfaatkan kardus untuk mengemas barang bawaan, karena murah meriah dan bisa didapatkan dengan mudah dibandingkan dengan tas koper sebagaimana oarang-orang kota.



Kardus juga sering digunakan sebagai bahan ungkapan untuk mengambarkan perilaku seseorang, misalnya saja kita pernah dengar lagu lelaki kardus yang sempat viral didunia maya, lagu yang dinyanyikan oleh seorang anak perempuan yang secara implisit menceritakan tentang perselingkuhan seorang ayah. Kini muncul lagi ungkapan yang menggunakan media Kardus untuk menilai perilaku orang.

Cerita kardus kali ini tentang ramainya pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres), dimana sampai saat ini partai politik masih sibuk membangun koalisi untuk mendaftarkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Singkat ceritanya, karena kecewa seorang politisi sebuah partai politik menyampaikan dengan menggunakan istilah "Jenderal Kardus". Pemakaian istilah tersebut, untuk mengambarkan ketidakkonsistenan seseorang, karena adanya mahar politik sehingga akan mengubah komitmen politik yang sebelumnya sudah disepakati.

Dinamika politik menjelang pilpres memang sangat menyita perhatian publik, sebuah tontonan politik yang mengambarkan bagaimana politisi-politisi republik ini melakukan manuver-manuver untuk dapat merengkuh kekuasaan, sayangnya dari dinamika yang berkembang masih jauh dari pembicaraan tentang bagaimana membangun negara dan bangsa ini untuk lima tahun kedepan, semua masih sibuk mencari celah untuk menempatkan kader partai politik dalam pucuk kekuasaan. Bahkan yang lebih mengerikan, publik disuguhi dengan perilaku politisi yang saling serang saling merendahkan satu sama lain hanya untuk mendapatkan posisi wakil presiden sehingga lupa agenda dan tujuan pemilu yaitu menjadi media demokratis untuk membangun negara ini.

Sehingga wajar, muncul pertanyaan sebenarnya yang diperjuangkan oleh politisi itu apa, hanya sekedar berebut "kardus" berebut kuasa lalu rakyat mendapatkan apa dari semua itu. Pertanyaan ini terkesan klise, tapi itu harus terus digaungkan karena sebenarnya politik adalah untuk mendapatkan kesepakatan bersama dan bertujuan untuk menciptakan kebaikan, kesejahteraan bersama. Diskusi-diskusi ini yang seakan lepas dari dinamika saat ini.

Jangan sampai pendidikan politik yang diberikan kepada masyarakat hanya sekedar rebutan kardus yang sebenarnya bagi publik tidak terlalu penting siapa yang berkuasa, tetapi yang lebih penting dari politik dinegeri ini adalah bagaimana bisa menghadirkan kesejahteraan bagi semua warga negara melalui kemajuan pendidikan, kesehatan dan layanan dasar lainnya yang masih menjadi problem mendasar bagi negara ini untuk bergerak menjadi negara maju.

Pemilihan umum baik pileg maupun pilpres haruslah dijadikan momentum untuk memperbaiki keadaan yang lebih baik, melalui kekuasaan yang diraih bisa menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup warga negara bukan sekedar untuk meraup keuntungan kelompok dan golongannya. Untuk itu partai politik dan anggota parpol harus menghadirkan politik yang santun, sesuai dengan norma bangsa ini tidak saling menjatuhkan dengan membangun konsesus bersama tentang masa depan bangsa yang besar ini. Semoga segera bisa dihentikan politik kardus, politik cebong dan kampret yang saat ini berpotensi untuk memecah kesadaran politik warga negara. Salam !!!!

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar