follow us

Belajar dari Ketangguhan Mbah Darmi (94 Tahun) Penjual Bunga di Kepanjen

Usia tidak menghalangi untuk tetap berkerja demi mencukupi kebutuhan hidup, seperti apa yang dilakoni oleh Mbah Darmi diusianya yang telah 94 tahun mbah Darmi tetap energik untuk bekerja.

Sehari-hari Mbah Darmi menjalani pekerjaan dengan berjualan bunga ditrotoar didepan salah satu toko di Kota Kepanjen Malang. Dengan usia setua itu mbah Darmi setiap tiga hari sekali harus pulang pergi Kediri – Kepanjen dengan seorang diri sambil membawa dagangan. Dan setiap malamnya menurut penuturannya tidur di trotoar bersama dagangannya, karena tidak memiliki tempat tinggal di Kota Kepanjen.

Menurut penuturan mbah Darmi, setiap malam harus tidur ditrotoar yang dingin merupakan hal yang biasa, hawa dingin seakan sudah tidak lagi terasa tergerus oleh semangat untuk terus bertahan demi mendapatkan uang. Paling tidak selama 3 malam mbah Darmi harus merasakan dinginnya alam terbuka menunggu dagangannya habis baru kembali ke kota Kediri.



Mbah Darmi adalah sosok nenek yang tidak tergantung dengan orang lain, dengan usia yang sudah tua beliau tetap berusaha dengan berjualan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tidak tergantung dengan pemberian orang, selama kita masih bisa bekerja dengan berjualan saya tidak mau mengharap belas kasihan orang dengan meminta-minta itulah prinsip Mbah Darmi.

Dengan cara berjualan bunga ditrotoar inilah cara mbah Darmi mendapatkan uang, meskipun dagangan bunganya tidak selalu laku setiap harinya tapi mbah Darmi tidak selalu mengeluh karena baginya rejeki sudah ada yang mengatur, demikian Mbah Darmi selalu menghibur diri.

Suaranya masih terdengar tegas ketika menjawab pertanyaan para pembeli, dan tangannya pun masih cukup cekatan mengambil bunga yang dipilih oleh pembeli menujukkan jiwa penuh semangat dan ketangguhan dengan harapan yang begitu tinggi. Mbah Darmi kelihatan sebagai perempuan tua yang kuat secara jiwa dan fisik.



Tidak terlihat sama sekali keluhan dan penyelasan dengan apa yang dilakoni saat ini, justru terpancar kebahagiaan dalam raut wajahnya yang sudah keriput. Meskipun setiap malam harus berselimut udara dingin kota Kepanjen, namun fisik mbak Darmi masih cukup terlihat sehat.

Cerita mbah Darmi ini mungkin salah satu potret kehidupan yang harus dihadapi dimasa tua, bertahan hidup dengan berjualan diusia 94 yang semestinya sudah menikmati masa tua dengan menimang cicit, tanpa perlu bersusah payah mencari uang lagi untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Semoga mbah Darmi selalu sehat – sehat selalu.
Disclaimer: Tulisan-tulisan yang ada di blog ini merupakan pendapat pribadi, bukan mewakili lembaga manapun. silahkan mencuplik, mengutip tulisan (opini) yang ada di blog ini tapi sebelumnya harus konfirmasi melalui email : dakelan.tb@gmail.com atau di nomer 081332025450 (WA Only).

Baca Artikel Lainnya: