follow us

Jimpitan dan Semangat Gotong Royong Warga Desa

Jimpitan adalah bentuk lain dari iuran yang dilakukan oleh warga desa atau kampong, biasanya jimpitan ini tidak disetor oleh warga melainkan akan diambil oleh warga lain yang kebetulan sedang kebagian ronda malam. Biasanya warga yang melakukan ronda akan keliling kampung untuk mengambil uang yang telah disediakan didinding atau pagar rumah yang menggunakan bekas gelas air minum.

Besaran jimpitan tidak ditentukan sesuai dengan kerelaan masing-masing warga, tetapi kalau dikampung saya minimal jimpitan yang diberikan sebesar Rp. 500. Rata-rata setiap malam hasil jimpitan ini mencapai Rp.30.000-Rp. 40.000 cukup lumayan kalau satu bulan sudah mencapai hampir satu juta dan kalau satu tahun sudah terkumpul 12 juta.

Banyak sekali manfaat dari hasil jimpitan ini, kebetulan tempat saya tinggal masuk wilayah kelurahan meskipun sebenarnya suasananya masih seperti desa. Dari hasil jimpitan ini dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan lingkungan, dan mendanai kegiatan kampung lainnya seperti kalau ada acara tahunan manganan (sedekah bumi), dan juga dipakai untuk santunan warga yang meninggal dunia.

Pengelolaan dari jimpitan ini sangat sederhana, biasanya setiap malam setelah selesai mengambil jimpitan warga yang bertugas mengambil jimpitan akan menulis jumlah jimpitan dipapan yang disediakan dipos ronda dan juga menulis dibuku yang disediakan oleh pengurus RT. Selanjutnya, setiap bulan pengurus RT akan mempertanggungjawabkan perolehan jimpitan dan penggunaan dalam rapat RT yang dihadiri oleh warga juga. Dalam rapat RT juga akan dibahas mengenai rencana kegiatan yang menggunakan uang dari hasil jimpitan.

Tradisi jimpitan ini ternyata sudah berlangsung cukup lama, dibeberapa tempat bentuknya bermacam-macam tidak hanya uang misalnya ada juga yang jimpitan berupa beras. Beras ini nanti akan dikelola oleh desa untuk kegiatan-kegiatan desa dari hasil penjualan beras.

Kebiasaan unik ini telah mempertahankan keguyupan warga kampung, menciptakan rasa solidaritas dan kepercayaan yang tinggi diantara warga, dan juga antara warga dan perangkat desa. Ditengah gempuran model pembangunan yang memiliki kecenderungan merusak semangat gotong royong dan swadaya masyarakat. Kita bisa menengok bagaimana adanya dana desa misalnya, sampai saat ini bukannya menjadi penguat tradisi tersebut malah semakin menjadi instrument yang merusak kekuatan swadaya dan gotong royong warga desa.

Keunikan jimpitan ini harus terus dipertahankan, meskipun pemerintah desa sudah memiliki cukup anggaran yang diperoleh dari pemerintah pusat. Karena melalui keunikan jimpitan ini masyarakat dapat menghargai hasil pembangunan dan merasa memiliki setiap apa yang dihasilkan dari desa. Menjauhkan masyarakat atau warga desa dari ketergantungan pihak luar itulah semangat terpenting dari jimpitan ini.

Dengan adanya rasa memiliki hasil pembangunan desa, maka kalau tidak ada masalah terhadap hasil pembangunan maka warga desa akan bersama-sama, bahu membahu memperbaiki permasalahan tersebut. Saya masih ingat dulu waktu kecil, kalau ada gedung Sekolah dasar (SD) yang rusak, maka dengan semangat warga desa bergotong royong untuk memperbaiki dengan swadaya desa, kalau sekarang ada gedung sekolah rusak warga akan menunggu bantuan dari pemerintah, begitu juga kalau ada jalan yang rusak warga lebih suka menanami pohon pisang untuk memperoleh perhatian pemerintah supaya segera diperbaiki.
Disclaimer: Tulisan-tulisan yang ada di blog ini merupakan pendapat pribadi, bukan mewakili lembaga manapun. silahkan mencuplik, mengutip tulisan (opini) yang ada di blog ini tapi sebelumnya harus konfirmasi melalui email : dakelan.tb@gmail.com atau di nomer 081332025450 (WA Only).

Baca Artikel Lainnya: