Skip to main content

follow us

Viral petugas bank darah memarahi keluarga pasien, Cerminan Buruknya Layanan Kesehatan ?

Video seorang karyawan rumah sakit yang memarahi keluarga pasien menjadi viral. Video yang menayangkan sikap kurang sopan petugas bank darah di rs di surabaya banyak mengundang keprihatinan publik media sosial. Pasalnya sikap petugas tersebut memperburuk citra pelayanan kesehatan.

Dalam video yang disebar oleh akun facebook bernama Gretta Sukma Kusuma, ia mengkritik tindakan para petugas yang meninggalkan lokasi dengan alasan mengerjakan sholat, sementara salah satu keluarganya yang tengah menjalani operasi bedah jantung membutuhkan darah.

Jika kita cermati, kejadian seperti itu tidak hanya sekali dan papatut disayangkan bagaimana tidak berjalannya standart operasional prodesur (SOP) pelayanan kepada masyarakat. Selain sikap yang tidak ramah, tidak jarang karena keteledoran petugas kesehatan berakibat memburuknya konsisi pasien.

Kejadian dalam video tersebut, menambah daftar panjang cerita buruknya pelayanan kesehatan. Sikap petugas kesehatan belum banyak berubah, masih bersikap judes, cerewet dan sikap buruk lainnya. Penyedia layanan kesehatan yang mestinya dapat bersikap ramah, berempati kepada pasien dan keluarga pasien. Dengan bersikap ramah dalam memberikan pelayanan akan memberikan rasa nyaman kepada pasien.

Selama ini fasilitas kesehatan atau rumah sakit, terutama rumah sakit milik pemerintah banyak dikeluhkan pelayanan yang kurang baik. Termasuk sikap petugas pelayanan mulai dari petugas pelayanan administrasi, sampai petugas medis menjadi keluhan paling sering kita dengar.

Banyak dan sudah beberapa kali kita mendengar, sikap ketidakprofesionalan tenaga kesehatan di Fasilitas kesehatan, tidak jarang akibat dari itu pasien yang selalu menjadi korban, seperti kejadian bayi meninggal karena tersiram air panas, perawat menyuntik pasien yang sudah meninggal, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi akibat dari kurang profesionalnya tenaga kesehatan.

Pelbagai kasus tersebut, sebenarnya mencerminkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan kita masih menemui banyak masalah yang harus ditangani. Mulai dari Sumber daya manusia (SDM), fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan yang belum memadai. Sumberdaya manusia kesehatan merupakan unsur penunjang utama dalam pelayanan kesehatan, yang ternyata sampai saat ini masih belum memadai baik dari sisi kualitas maupun kuantitas yang tentunya akan berdampak pada buruknya kualitas pelayanan kesehatan.

Oleh karena itu untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan harus meningkatkan kualitas Sumber daya manusia, termasuk tenaga kesehatan yang lebih profesional supaya masyarakat dapat benar-benar merasakan pelayanan yang prima, merasa nyaman saat berobat. Setiap jenjang layanan kesehatan, mulai dari tingkat dasar yaitu FKTP sampai dengan FKTL harus mulai mendorong terwujudnya kontrak layanan dengan masyarakat, puskesmas dan rumah sakit dapat menjalankan layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Tenaga kesehatan selain diikat dengan etika profesi, SOP, penting juga berkerja sesuai dengan kontrak layanan yang disusun bersama masyarakat. Hal ini dimaksdukan agar setiap layanan kesehatan yang diberikan dapat efektif dan dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan itu sendiri.

Dengan kontrak layanan yang jelas, juga akan dapat menghindari kasus-kasus layanan yang belakangan ini marak terjadi, karena antara petugas layanan dan masyarakat yang mengakses layanan saling memahami tata cara dan prosedur layanan. Selama ini salah satu kendala yang dihadapi oleh pasien ketika berobat adalah minimnya informasi tentang prosedur layanan kesehatan, mulai dari layanan administrasi sampai dengan prosedur tindakan medis.

Keterbukaan informasi pelayanan kesehatan, merupakan hak masyarakat untuk mendapatkannya apalagi fasilitas kesehatan yang dimiliki oleh pemerintah karena sumber pendanaan faskes pemerintah berasal dari uang negara yang bersumber dari pajak dan dipungut dari masyarakat, sehingga masyarakat memiliki hak untuk meminta informasi.

Satu hal lagi yang penting bagi faskes untuk meningkatkan mutu layanan adalah penyediaan layanan pengaduan bagi masyarakat yang merasa tidak puas terhadap layanan yang diperoleh. Munculnya kasus-kasus layanan di media sosial, salah satu penyebabnya tidak adanya sarana pengaduan yang dikembangkan baik oleh puskesmas maupun oleh rumah sakit. Meskipun tersedia, terkadang masyarakat tidak mengetahaui karena minimnya sosialisasi dan lambatnya respon yang diberikan sehingga masyarakat menjadi enggan untuk mengadu melalui mekanisme resmi yang pada akhirnya lebih memilih curhat di media sosial dan akan menjadi viral, yang biasanya akan cepat direspon oleh pihak penyedia layanan.

Semoga dengan kasus-kasus layanan yang sudah bermunculan tersebut, menjadi perhatian baik pemerintah, penyedia layanan dan masyarakat sendiri untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pelayanan. Melalui meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dengan memiliki etika pelayanan yang baik, melayani dengan sepenuh hati, memberikan rasa nyaman dengan senyum, sapa.

Kita tentunya tidak mau lagi mendengar kasus-kasus layanan kesehatan yang disebabkan oleh keteledoran tenaga kesehatan, dan kita juga mengharapkan ada perubahan sikap dalam melayani dari tenaga kesehatan. Karena layanan kesehatan adalah sesuatu yang mendasar, dengan masyarakat yang sehat tentu menjadi jalan untuk menuju sejahtera. Semoga !!!!!

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar