Skip to main content

Menjadi Pemilih Cerdas dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018

Oleh: Cak DakelanPada: Februari 12, 2018

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur telah menetapkan dua pasangan calon yang akan mengikuti pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Kedua pasangan calon tersebut adalah pasangan Khofifah Indah Parawansa - Emil Elestianto Dardak dan pasangan Saifullah Yusuf - Puti Guntur Sokearno. Setelah penetapan pasangan calon, tahapan berikutnya adalah pelaksanaan kampanye oleh pasangan calon yang dijadwalkan pada Kamis 15 Februari hingga 23 Juni sampai memasuki masa tenang yaitu tanggal 24 Juni sampai 26 Juni 2018 dan pemungutan suara akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.

Pemilihan Kepala daerah (PILKADA) adalah momentum untuk menentukan dan memilih pemimpin selama lima tahun. Tentunya kita berharap akan terpilihnya Gubernur dan wakil Gubernur yang berkwalitas, yang dapat mewujudkan harapan masyarakat atau warga Jawa Timur terutama harapan untuk kesejaheteraan sosial. Pemimpin yang berkwalitas juga seorang pemimpin yang amanah, harapan lainnya adalah seorang pemimpin yang dapat meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan daya saing daerah.

Untuk mendapatkan pemimpin yang berkwalitas melalui mekanisme pilkada langsung tidaklah hal yang mudah, untuk itu dibutuhkan calon-calon yang berkualitas dan tentunya juga sangat penting adalah pemilih yang cerdas. Karena pemilih yang cerdas dan rasional akan menentukan hasil pemilihan langsung. Supaya mendapatkan pemimpin atau Gubernur dan wakil Gubernur yang berkwalitas dalam Pemilukada langsung, tentunya kita haru menggunakan hak pilih kita untuk memilih.

Masalahnya, dengan berbagai pilihan yang ada dengan kandidat yang mengucapkan segudang janji-janji, acapkali kita seringkali ragu dengan kandidat yang hendak kita pilih. Hal ini mengisyaratkan percampuran berbagai kondisi psikologis masyarakat, antara kepedulian untuk Pemilukada, apatisme, dan ketiadaan harapan untuk masa depan pasca pemilukada. Pesimisme masa depan dan janji kampanye yang sekedar isapan jempol akhirnya mendorong pemilih menjadi pragmatis. Belum lagi adanya anggapan, siapapun yang berkuasa tidak akan mampu melakukan perubahan signifikan.

Pemilukada adalah proses demokrasi untuk menentukan pemimpin di daerah baik Bupati-wakil Bupati, Gubernur dan Wakil Gubernur yang sudah menjadi kesepakatan bangsa ini. Sehingga sebagai masyarakat, kita harus berperan aktif dalam proses pemilukada, supaya proses yang demokratis ini tidak terbajak oleh kekuatan yang hanya mementingkan golongan kelompok mereka saja. Karena dengan partisipasi kita sebagai pemilih akan menentukan sosok atau wajah yang sesuai dengan kehendak masyarakat bersama, bukan pemimpin dari sekelompok dan segolongan tertentu saja.

Dalam alam demokrasi Pemilukada merupakan prasyarat utama dan tanda utama apakah demokrasi terjadi atau tidak. Pemilukada adalah ruang untuk menunjukkan keberkuasaan rakyat atas calon pemimpin yang mereka pilih. Melalui proses pemilihan itu, rakyat meyerahkan sebagian kedaulatannya kepada pemimpin mereka. Pemilukada juga merupakan pembeda antara demokrasi dan non demokrasi, dalam proses pemilihan maupun bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Dengan pemilukada rakyat bisa menuntut pertanggungjawaban atas kinerja pemerintahan yang berujung apakah ia layak dipilih kembali atau tidak.

Sekali, sebagai warga Jawa Timur ayo menggunakan hak pilih kita supaya Jawa Timur dapat dipimpin oleh Gubernur dan Wakil Gubernur yang berkwalitas, amanah dan memahami kebutuhan masyarakat Jawa Timur. Saatnya menentukan pemimpin Jawa Timur yang secara amanah dapat mengelola sumber daya yang dimiliki oleh Jawa Timur sebegitu besarnya untuk kesejahteraan warga Jawa Timur.

Kemudian bagaimana menjadi pemilih yang cerdas dalam pemilihan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memilih dengan menggunakan akal sehat dan hati nurani. Penggunaan akal sehat, berarti menggunakan penilaian yang obyektif, tanpa dipengaruhi oleh faktor uang, hubungan kekerabatan, dll. Sementara memilih dengan hati nurani kita, siapa sebenarnya yang kita pilih, bagaimana kualitas moralnya, kualitas intelektualnya dan ketrampilan profesional yang dimilikinya.


Kemudian, bagaimana masyarakat memilih dengan cerdas sehingga melahirkan pemimpin yang berkualitas? Memilih dengan cerdas, berarti memilih dengan menggunakan akal sehat dan hati nurani. Memilih dengan akal sehat, berarti kita memilih dengan menggunakan penilaian yang objektif, tanpa dipengaruhi oleh faktor uang, hubungan kekerabatan, suku, daerah, agama, dll. Memilih dengan hati nurani, berarti kita harus melihat dengan hati nurani kita, siapa sebenarnya calon yang akan kita pilih, bagaimana kualitas moralnya, kualitas intelektualnya dan keterampilan profesional yang dimilikinya.

Menurut beberapa pakar, ada lima tips supaya kita menjadi pemilih yang cerdas, yaitu :

  1. Gunakanlah hak pilih anda. Satu suara akan berguna bagi calon yang baik.
  2. Cermatilah visi, misi dan program kerja yang ditawarkan oleh para calon Gubernur dan wakil Gubernur.
  3. Cermati juga apakah dia lebih banyak mendengarkan keluhan masyarakat
  4. Selidikilah moral dan etika para calon, apakah pernah tersangkut masalah hukum seperti korupsi dll.
  5. Cermatilah hal-hal tehnis dalam pemilukada. Contohnya; cara menyoblos yang benar.


Kesadaran pemilih tentang perlunya mencermati secara cerdas para kandidat adalah kunci utama terpilihnya pemimpin yang akan bisa mengatasi persoalan rakyat. Hal inilah yang seharusnya terus ditumbuhkan oleh kita semua sebagai masyarakat. Dengan menjadi pemilih yang cerdas dan sadar akan semakin mendekatkan pada terwujudnya Pemilukada yang berkualitas, dan bukan sekedar ritual tahunan yang memakan biaya yang cukup tinggi. Semoga !!!!!
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar