follow us

Guru Meninggal di Aniaya Muridnya Apa Yang Salah dengan Dunia Pendidikan Kita

Dunia Pendidikan kita kembali terguncang dengan kasus kekerasan, kali ini menimpa seorang guru yang mengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Sampang. Guru seni rupa tersebut, meninggal karena dianiaya oleh siswanya sendiri. Kejadian ini berawal dari teguran (mencoret denganata pelajaran, karena tidak terima ditegur siswa tersebut melakukan pemukulan terhadap guru yang sampai menyebabkan sang guru tersebut meninggal dunia.

Apapun alasanya, kekerasan dalam proses belajar mengajar tidak dibenarkan apalagi sampai menimbulkan korban karena kekerasan fisik. Kita masih ingat kasus kekerasan yang terjadi terhadap guru di Medan, yang dilakukan oleh orang tua murid karena tidak terima anaknya dihukum oleh gurunya. Kekerasan disekolah sepertinya seperti mata rantai yang sulit diputus, dan pelakunya sudah beragam mulai dari guru, siswa dan orang tua siswa. Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi nampaknya belum menjadi refleksi serius terhadap perubahan metode belajar mengajar di sekolah, hal ini terbukti dengan munculnya kembali kejadian kekerasan disekolah. Beragam pendapat dalam menyikapi persoalan kekerasan disekolah, ada yang mengatakan bahwa kekerasan terjadi karena ketidaksetaraan hubungan antara guru dan murid. Tidak ada keseimbangan antara pengembangan otak kiri dan otak kanan yang menyebabkan murid memiliki beban mata pelajaran yang berat dan ini akan berdampak pada psikologi siswa dan mudah memicu siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berujung kepada kekerasan, seperti tawuran dan lain sebagainya.

Berdasarkan survei International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak (KPAI) sebanyak 84 % anak di Indonesia mengalami kekerasan di Sekolah. Angka Kasus kekerasan di sekolah di Indonesia ini lebih tinggi dari Vietnam (79 %), Nepal (79 %), Kamboja (73 %), dan Pakistan (53 %).

Data kekerasan disekolah menurut pelaku dan bentuknya menurut KPAI, 45 % siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, 40 % siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya, 75 % siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22 % siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 50 % anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah.

Seperti adagium, tidak asap kalau tidak api, begitu juga kekerasan yang sering terjadi di dunia pendidikan kita. Kekerasan yang terjadi pasti ada sebabnya dan berawal dari kekerasan. Itulah mengapa kekerasan di sekolah sulit diatasi, masih adanya anggapan diantara pendidik bahwa menghukum anak dengan kekerasan masih diperlukan untuk mendisiplinkan, kemudian juga perlakuan sekolah yang tidak konsisten atas kekerasan yang dilakukan siswa kepada siswa lain. Selanjutnya, pemahaman tentang definisi kekerasan yang tidak merata, faktor lainnya adalah kondisi di rumah yang tidak harmonis termasuk tekanan ekonomi. Selain itu, menurut KPAI, faktor lain yang sangat berpengaruh sehingga kekerasan sulit diputus mata rantainya, yaitu Pertama, anak kerap menyaksiskan kekerasan melalui games dan youtube yang dapat memicu anak melakukan kekerasan. Kedua, kurang dipahaminya hak-hak anak oleh pihak-pihak yang terkait dengan anak. Ketiga, anak-anak belum cukup diberdayakan agar mampu melindungi dirinya serta melindungi temannya.

Dari berbagai data tersebut, paling tidak bisa menjadikan refleksi bagi semua pihak untuk segera berbenah supaya tidak ada lagi kasus kekerasan, baik yang dilakukan oleh guru, orang tua dan siswa. Semua pihak harus memiliki tanggungjawab terhadap perannya masing-masing. Sekolah harus menjadi tempat belajar yang nyaman bagi semua pelaku pendidikan, seorang guru bukan lagi hanya sebagai pengajar tetapi harus mampu berperan sebagai orang tua, dimana siswa dapat berkomunikasi dengan nyaman tanpa ada beban. Orang tua juga memiliki peran yang cukup besar untuk menghentikan kekerasan disekolah, selalu memberikan perhatian berkomunikasi dengan sekolah terutama guru untuk mengetahui perkembangan anak dan juga selalu mengajak anak untuk berdiskusi tentang perkembangan disekolah.

Selain itu juga peran pemerintah juga sangat besar, terutama untuk terus menata dan memperbaiki sistem pendidikan kita. Selama ini proses belajar-mengajar disekolah selalu disesuaikan dengan kurikulum yang menjadi kebijakan pemerintah. Nah, masalahnya adalah setiap ganti menteri pendidikan sering pula diganti kurikulumnya. Di indonesia, seringkali terjadi pergantian model kurikulum, pada tahun 1968 diterapkan Kurikulum Sekolah dasar yang kemudian diUbah menjadi Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan di Tahun 1974. Satu tahun kemudian, tahun 1975, kurikulum diubah kembali menjadi Kurikulum Sekolah Dasar. Lalu, pada tahun 1984, Kurikulum Sekolah dasar, diubah menjadi Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (K-CBSA).

Setelah terimplementasi selama 10 tahun, CBSA diubah menjadi kurikulum 1994. Pada tahun 2004, kurikulim CBSA mengalami perubahan yang cukup signifikan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu disempurnakan pada 2006 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTPS). Dan, di tahun 2013 pememrintah kembali menerapkan kurikulum baru: Kurikulum 2013 (K-13).

Pergantian model kurikulum tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah untuk menjadikan pendidikan kita semakin berkembang, akan tetapi jika dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa ada kajian yang mendalam juga tidak berdampak apa-apa. Karena pergantian kurikulum tersebut menjadikan pelaku pendidikan harus terus menyesuaikan ditengah kondisi SDM guru kita yang tidak merata.

Sudah saatnya kita menghentikan kekerasan disekolah, pelaku pendidikan, orang tua dan pemerintah harus bersama-sama untuk terlibat dalam rangka memutus mata rantai kekerasan disekolah. Menjadikan sekolah tidak hanya tempat mendidik anak untuk memiliki kepandaian dan kecerdasan, tetapi juga tempat atau kawahcondodimuko bagi anak untuk mendapat pendidikan moral, belajar budaya menghargai, menghormati dan juga tempat belajar untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab, baik pada dirinya sendiri, lingkungan dan masyarakat.
Disclaimer: Tulisan-tulisan yang ada di blog ini merupakan pendapat pribadi, bukan mewakili lembaga manapun. silahkan mencuplik, mengutip tulisan (opini) yang ada di blog ini tapi sebelumnya harus konfirmasi melalui email : dakelan.tb@gmail.com atau di nomer 081332025450 (WA Only).

Baca Artikel Lainnya: