Skip to main content

follow us

Pilgub Jatim Bukan Sekedar Pesta 5 Tahunan

Tahun 2018 merupakan tahun politik, pada tahun ini sedang berlangsung tahapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak termasuk di Jawa Timur. Tahapan Pilkada yang sudah dilaksanakan adalah pendaftaran bakal calon baik Gubernur dan wakil gubernur maupun untuk bakal calon bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota. Artinya meskipun belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) calon yang akan resmi akan berkompetisi dalam Pilkada, namun masyarakat sudah mendapat bayangan siapa kira-kira yang akan menjadi pilihannya pada saat hari pemilihan nanti.

Kalau kita lihat dinamika politik khususnya di Pemilihan Gubernur jawa Timur, terdapat dua pasangan calon yang sudah mulai gencar melakukan sosialisasi, yaitu pasangan Khofifah Indra Parawansa dan Emil Dardak, kemudian pasanagan Syaifullah Yusuf dan Puti Guntur Sukarno. Lalu apa sesuatu yang strategis yang akan didapat oleh warga Jawa Timur, selain yang sudah pasti akan menghasilkan Gubernur dan Wakil Gubernur dari perhelatan Pilkada ini?. Menurut saya ini pertanyaan yang serius harus dijawab, supaya Pilkada tidak hanya rutinitas pemilihan pemimpin di daerah.

Secara teorinya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan mekanisme demokratis untuk menentukan pemimpim yang akan menjadi nahkoda dalam menjalankan pembangunan selama 5 tahun. Oleh karenanya memilih Gubernur dan wakil gubernur harusnya dilakukan dengan rasional, untuk menjadi pemilih yang rasional diperlukan informasi yang cukup tentang calon yang akan dipilih. Informasi yang utama adalah soal visi dan misi dari masing-masing calon, ini sebagai salah satu pertimbangan bagi pemilih. Pentingnya mengetehaui visi dan misi, karena diharapkan gubernur terpilih dapat memberikan solusi kebijakan terhadap masalah-masalah pembangunan yang dihadapi di Jawa Timur, terutama masalah-masalah sosial dan kesejahteraan warga jatim.

Dilihat dari politik dan ekonomi, Jawa Timur merupakan poros politik dan ekonomi kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta. Kinerja ekonomi makro di Jawa Timur adalah terbaik, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Jawa Timur setiap tahun selalu melampaui pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional. Masalahnya adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi yang bagus tersebut dapat mendorong kesejahteraan masyarakat jawa timur, sebab yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi kemiskinan juga tinggi menjadi terbesar ke dua diantara provinsi di Pulau Jawa.

Berdasarkan data BPS Jawa Timur, tahun 2017 masih terdapat 4.617,01 (ribu) penduduk miskin atau 11,77 persen meskipun disaat yang sama pertumbuhan ekonomi mencapai 5,37 dimana pertumbuhan tersebut berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 5,01. Sekilas dengan melihat data tersebut, kinerja pembangunan di Jawa Timur masih menyisakan persoalan, yaitu bagaimana mendorong adanya pertumbuhan yang berkualitas. Karena dengan melihat data tersebut mengindikasikan bahwa belum terjadi pemerataan pendapatan dengan kata lain pertumbuhan ekonomi masih dinikmati oleh segelintir penduduk di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut belum dinikmati oleh sebagian besar penduduk Jawa Timur terutama yang tergolong miskin tersebut. Ini merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi calon Gubernur terpilih nantinya, bagaimana mendorong pemerataan ekonomi sehingga masyarakat jawa timur memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pembangunan.

Dengan memahami bagaimaan visi dan misi calon gubernur, kita sebagai pemilih akan mendapat gambaran bagaimana masing-masing calon memiliki strategi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Selain itu, ruang-ruang diskusi Pilkada akan menjadi hidup dan strategis, tidak hanya dipenuhi intrik politik yang terkesan saling menjatuhkan masing-masing calon yang merupakan pendidikan politik yang tidak baik. Pemilih yang rasional itu tidak terpengaruh dengan latar belakang calon, terutama latar belakang keturunan, nasab dll, tetapi melihat program kerja yang ditawarkan untuk menyelesaikan problem-problem sosial dan kesejahteraan.

Sebagai pemilih, tentunya kita sangat berharap bahwa calon dan tim sukses calon dapat memfasilitasi sebanyak mungkin ruang-ruang diskusi dengan calon pemilih supaya kita dapat mengetahui dengan mendalam tentang rencana-rencana strategi untuk Jawa Timur 5 tahun mendatang. Manfaat diadakannya ruang-ruang diskusi tersebut, dapat mendorong partisipasi pemilih yang lebih tinggi, dimana selama ini ruang tersebut nyaris kosong dan hanya ditebari dengan kampanye-kampanye yang banyak memuat slogan-slogan atau janji tanpa ada kesempatan warga untuk menguji dan ini menjadi tanggungjawab partai politik pengusung dan tim sukses untuk membuka seluas mungkin arena dialog.

Melalui Pemilihan Gubernur yang dilakukan lima tahun sekali ini, kita sebagai pemilih dan warga Jawa Timur, berharap tidak sekedar menjadi rutinitas 5 tahunan untuk memilih pemimpin tapi lebih dari itu sebenarnya harus menjadi pintu masuk untuk perubahan untuk Jawa Timur yang lebih sejahtera. Untuk menuju kesana memang jalan yang cukup berat, artinya dibutuhkan peran aktif semua pihak, baik dari pemilih sendiri yang benar-benar harus menjadi pemilih yang rasional, kemudian peran penyelenggara pilkada dalam hal ini KPUD haruslah menjadi motor untuk menjadikan pilkada ini benar-benar berkualitas, sedangkan untuk partai pengusung dan tim sukses, harus mampu menjembatani adanya dialog yang lebih luas antara calon dengan pemilih supaya pemilih tidak hanya dijejali dengan informasi yang cenderung menjauhkan sebagai pemilih yang rasional.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar